Elegant Rose

Kamis, 09 Februari 2012

Rose of Versailles Ep. 05 : Tears With Dignity

Diposting oleh Unknown di 8:17 PM 0 komentar
Konflik antara Putri Marie Antoinette dan Madame du Barry tidak hanya tersebar luas di Versailles, tetapi juga di seluruh Prancis sampai ke seluruh Eropa. Putri Marie Antoinette bersikukuh untuk tidak mempedulikan Madame du Barry walaupun itu adalah perintah raja sekalipun. Antoinette juga telah mengabaikan surat yang dikirim oleh Kaunitz, perdana menterinya dari Austria. Madame du Barry semakin kesal dan terus merengek pada Raja Louis XV. Sang Raja pun murka karena selama ini tidak ada seorangpun yang berani membantah perintahnya. Raja Louis XV pun memerintahkan Count Mercy untuk menghadapnya dan mengatakan pada Count Mercy apabila Putri Antoinette tidak memperbaiki kelakuannya terhadap Madame du Barry, maka sesuatu akan terjadi padanya.

Duke Orleans tiba-tiba memasuki ruangan Madame du Barry untuk mengingatkannya bahwa Raja Louis XV sudah tua dan apabila Raja Louis XV meninggal maka Putra Mahkota Louis August akan naik tahta menjadi Raja Louis XVI dan istrinya, Putri Marie Antoinette akan menjadi ratu prancis. Madame du Barry bisa saja dikirim ke penjara Bastille dan yang paling parah adalah dihukum mati. Duke Orleans kemudian mengajak Madame du Barry bekerja sama untuk melenyapkan Putra mahkota. Maka Duke Orleans pun menyuruh orang untuk menaruh bubuk peledak di senapan yang akan dipakai Putra Mahkota pada perburuan tahunan. Apabila pelatuknya ditarik, maka senapan itu akan meledak dan dapat menewaskan orang yang memegang senapan tersebut.


Perburuan tahunan pun tiba, rombongan Putra Mahkota berhasil menyudutkan seekor rubah. Tiba saatnya untuk Putra mahkota menarik pelatuk senapannya. Si rubah semakin dekat, namun pada detik-detik terakhir Oscar berhasil mendahului Putra Mahkota menembak rubah tersebut. Melihat kejadian itu, Duke Orleans pun geram. Dia kemudian menyuruh Oscar untuk menahan diri dan memberi kesempatan Putra Mahkota untuk menembak. Tak lama kemudian, mereka kembali berhasil menyudutkan seekor rubah. Putra Mahkota pun siaga, untuk menarik pelatuk dan menembak rubah tersebut. Namun tak disangka sang rubah malah menyerang kuda yang ditunggangi Putra Mahkota, membuat Sang Putra Mahkota jatuh ke tanah dan dan senapannya terlempar ke udara kemudian meledak ketika menghantam tanah. Duke Orleans geram karena rencananya gagal total.


Beberapa waktu kemudian di Istana Versailles, Count Mercy sedang berusaha membujuk Putri Marie Antoinette untuk mematuhi perintah raja. Namun Putri Antoinette tetap keras kepala. Count Mercy menyerah dan mengingatkannya bahwa keegoisannya akan merusak perdamaian antara Prancis dan Austria yang telah diperjuangkan oleh ibunya, yaitu Ratu Marie Therese selama hidupnya. Putri Antoinette pun teringat pada ibunya dan meminta pendapat pada Oscar. Oscar membenarkan perkataan Count Mercy. Oscar juga berkata bahwa konflik ini bisa jadi akan menimbulkan peperangan di seluruh Eropa dan beribu-ribu orang akan mati. Akhirnya Putri Marie Antoinette pun sadar dan berjanji akan menyapa Madame du Barry satu kali saja dan dia lakukan itu hanya demi ibunya, Ratu Marie Therese.


Bulan Juli 1771, di seluruh Versailles telah menyebar berita bahwa Putri Marie Antoinette akan menyapa Madame du Barry di sebuah pesta. Seluruh Versailles membicarakanya baik di kalangan bangsawan maupun di kalangan rakyat jelata.  Skenario pun sudah diatur dengan baik. Maka malam itu di sebuah pesta, Madame du Barry beserta kawan-kawannya sedang bermain kartu. Sesuai skenario, pukul 20:30 Count Mercy mendekati Madame du Barry dan merekapun berjalan bersama sambil berbincang-bincang. Tak lama kemudian Putri Marie Antoinette pun muncul. Putri Antoinette sebelumnya menyapa para bangsawan-bangsawan di sekitarnya, kemudian mendekati Count Mercy yang sedang berdiri di samping Madame du Barry. Setelah mencapai tempat dimana Count Mercy berdiri, Putri Marie Antoinette pun menyapa Count Mercy. Dalam skenario, seharusnya setelah Putri Antoinette menyapa Count Mercy, maka setelah itu Putri Antoinette menyapa Madame du Barry. 


Namun tiba-tiba saja skenario itu harus hancur berantakan, karena ketika Putri Antoinette baru saja berpaling pada Madame du Barry untuk menyapanya, Putri Adelaide dalah satu bibi dari Putra Mahkota tiba-tiba berlari mendekati Putri Antoinette dan menariknya keluar dari ruangan pesta. Semua orang terpana, tak menyangka akan seperti ini jadinya. Sementara itu, Madame du Barry harus menahan malu karena telah menjadi bahan tertawaan gara-gara kejadian ini. Putri Antoinette pun tidak menyangka hal ini akan terjadi dan dia pun berjanji suatu saat nanti dia akan benar-benar menyapa Madame du Barry.

Tahun baru 1 Januari 1772, semua bangsawan Prancis datang ke Versailles untuk memberikan ucapan selamat tahun baru. Semua bergiliran mengucapkan selamat tahun baru. Kemudian tiba giliran Madame du Barry. Mau tak mau, Putri Marie Antoinette harus mengatakan sesuatu padanya karena Raja Louis XV berada di dekatnya. Maka putri Marie Antoinette berkata pada nya, “Hari ini banyak sekali orang di Versailles”. Mendengar itu, Madame du Barry tertawa puas. Tidak kuasa menahan kesedihannya, Putri Antoinette berlari keluar ruangan. 

Oscar mengejarnya dan menemukan Putri Antoinette menangisi kekalahannya. Dia menangis karena dirinya yang bakal menjadi Ratu Prancis harus kalah oleh seorang mantan wanita penghibur seperti Madame du Barry. Saat itu Oscar menyadari bahwa Putri Marie Antoinette memang dilahirkan untuk menjadi seorang ratu. Dalam benaknya, Oscar berjanji akan melindungi Putri Marie Antoinette selama hidupnya.


Previous Episode: "A Rose, Wine, and Conspiracy"

Sabtu, 04 Februari 2012

Rose of Versailles Ep. 04 : A Rose, Wine and Conspiracy

Diposting oleh Unknown di 7:41 PM 0 komentar

Pada episode sebelumnya, Madame Du Barry meminta kepada Raja Louis XV untuk menjadikan Ibu Oscar sebagai dayangnya. Kabar ini terdengar oleh Putri Marie Antoinette. Putri Antoinette pun tidak mau kalah dan meminta pada Putra mahkota untuk menjadikan ibu Oscar menjadi dayangnya. Mau tidak mau Oscar harus memilih karena ini adalah perintah Raja.

Pada saat yang sama, di Austria Ratu Marie Therese ibunda Putri Marie Antoinette mengkhawatirkan keadaan putrinya di Prancis. Beliau telah mendengar kabar tentang persaingan Putri Marie Antoinette dengan Madame Du Barry, selir Raja Louis XV. Maka beliau mengutus Count Merci untuk pergi ke Prancis dan menjadi penasehat putrinya sebagai pengganti dirinya.

Sementara itu Oscar masih saja keras kepala tidak mau memilih. Andre Grandier, sahabat Oscar berusaha membujuk Oscar untuk membuat keputusan. Akhirnya Oscar menyerah dan memutuskan untuk memihak Putri Marie Antoinette yang sudah jelas bakal menjadi Ratu Prancis di kemudian hari. Maka keesokan harinya, tersiar kabar kemenangan pertama Putri Marie Antoinette terhadap Madame Du Barry.  Count Merci yang datang ke Versailles mendengar kabar itu dari para bangsawan. Dia kaget mendengar bahwa Putri Marie Antoinette secara terang-terangan menantang selir raja.

Madame Du Barry terus saja merengek kepada Raja tentang kelakuan Putri Marie Antoinette. Awalnya sang Raja tidak menggubrisnya, namun Madame Du Barry terus mendesaknya dan berkata bahwa penghinaan Putri Marie Antoinette terhadapnya, sama saja dengan Penghinaan terhadap Raja. Akhirnya Sang Raja pun termakan omongan Madame Du Barry. Beliau murka dan mengeluarkan peringatan untuk Putri Marie Antoinette. Mendengar ini, Count Merci khawatir persaingan bodoh antara wanita-wanita bangsawan Versailles ini akan membawa dampak buruk terhadap perdamaian antara Prancis dan Austria, dan bisa menimbulkan peperangan di Eropa.

Count Merci segera mengirimkan surat kilat kepada Ratu Marie Therese untuk memberitahukan hal ini. Kaunitz, sang Perdana Menteri, memberi saran agar Ratu Marie Therese menulis surat langsung kepada Putri Marie Antoinette. Namun, Ratu Marie Therese bimbang. Beliau tak mungkin mengajarkan putrinya untuk bersopan santun terhadap wanita macam Madame Du Barry. Oleh karena itu, beliau memerintahkan Kaunitz, sang Perdana Menteri yang menulis surat Kepada Putri Marie Antoinette.

Namun Putri Marie Antoinette tidak mempedulikan isi surat itu. Count Merci berusaha membujuk Putri Marie Antoinette untuk menyapa Madame Du Barry di pertemuan berikutnya. Namun pada saat pertemuan, Putri Marie Antoinette tetap tidak mau menyapa Madame Du Barry. Putri Antoinette malah mengatupkan mulutnya rapat-rapat dan memasang tampang penuh kebencian terhadap Madame Du Barry. Madame Du Barry sangat murka, namun tiba-tiba Duke Orleans datang keruangannya membawa sebotol anggur dan mereka pun menyusun rencana jahat.

Beberapa waktu kemudian Madame Jarjayes, ibu Oscar, diminta datang ke ruangan Madame Du Barry dan mengantarkan anggur untuk Madame Du Barry dan Putri Antoinette yang katanya saat itu berada di ruangan Madame Du Barry. Madame Jarjayes merasa curiga, bagaimana bisa Putri Antoinette berada di ruangan Madame Du Barry? Namun dia tidak banyak berkomentar dan langsung melaksanakan perintah itu dan datang ke ruangan Madame Du Barry mengantarkan dua gelas anggur. Andre yang mendengar kabar itu segera memberi tahu Oscar. Sementara itu, Madame Jarjayes kebingungan karena Putri Marie Antoinette tidak ada di ruangan Madame du Barry. Madame Du Barry mengatakan bahwa Putri Marie Antoinette baru saja meninggalkan ruangan. Madame Du Barry kemudian mengambil kedua gelas itu dan memberikan salah satu gelas itu kepada pelayannya. Begitu meminum seteguk anggur, si gadis pelayan tiba-tiba tercekik dan menjatuhkan gelas anggurnya. Si gadis pelayan pun langsung meninggal begitu meminum anggur yang diam-diam telah diracuni. Madame Du Barry langsung menuduh Madame Jarjayes ingin meracuninya.  Madame Jarjayes pun sadar bahwa ia telah dijebak oleh Madame Du Barry. Namun tiba-tiba Oscar datang dan terkejut dengan apa yang telah dilakukan Madame Du Barry terhadap ibunya. Oscar kemudian membuang gelas anggur yang dijatuhkan sang gadis pelayan itu keluar jendela. Oscar mengancam Madame Du Barry dia tidak akan tinggal diam apabila ada yang ingin mencelakai ibunya dan Putri Antoinette. Kemudian Oscar pun mengajak Madame Jarjayes keluar dari ruangan itu, meninggalkan Madame Du Barry yang terpuruk sendiri dalam kejengkelannya.

Previous Episode: "A Spark in Versailles"
Next Episode: "Tears in Dignity"

Rose of Versailles Ep. 03 : A Spark in Versailles

Diposting oleh Unknown di 7:01 PM 0 komentar


Cerita sebelumnya, Putri Marie Antoinette dari Austria datang ke Prancis untuk dinikahkan dengan Putra Mahkota Louis August. Namun ada pihak yang ingin menggagalkan rencana pernikahan itu dengan menculik sang Putri namun untung ada Oscar yang menyelamatkan sang putri. Sejak saat itu Oscar menjadi popular di kalangan istana terutama para bangsawan wanita.

Tanggal 16 Mei 1770 di gereja Louis XIV di Versailles, dilangsungkan upacara resmi pernikahan antara Putri  Marie Antoinette dan Putra Mahkota Louis August yang dihadiri oleh 6000 orang yang erdiri dari bangsawan dan biarawan. Namun saat menandatangani sertifikat pernikahan, pena yang digunakan oleh Putri Marie Antoinette tersendat dan meninggalkan bercak tinta. Hal itu dipercaya sebagai pertanda buruk.
Akhirnya Putri Marie Antoinette telah resmi menjadi Putri Mahkota Prancis, dan tiba saatnya dia datang ke pertemuan di Versailles untuk pertama kalinya. Di Prancis, ada tradisi khusus. Wanita yang derajatnya lebih rendah tidak boleh menyapa wanita yang kedudukannya lebih tinggi. Karena ratu sudah meninggal, maka Putri Marie Antoinette sebagai Putri Mahkota memiliki derajat paling tinggi dan semua orang menunggu Putri Antoinette menyapa mereka lebih dulu.

Di pertemuan itu, Putri Marie Antoinette melihat seorang wanita bertingkah angkuh. Dia adalah Madame Du Barry, selir Raja Louis XV. Begitu melihat wanita itu putri Marie Antoinette langsung tidak menyukainya. Putri Marie Antoinette pun menanyakan tentang wanita itu dan kedudukannya kepada Oscar yang kebetulan ada di sana. Rasa tidak suka Putri Marie Antoinette terhadap Madame Du Barry tidak luput dari perhatian ketiga bibi Putra Mahkota yaitu Putri Adelaide, Putri Sophie, dan Putri Victoria. Ketiga ‘old miss’ itu langsung memprvokasi Putri Marie Antoinette. Mereka menceritakan Madame Du Barry yang lahir dari kalangan rakyat biasa dan merupakan wanita penghibur. Dia kemudian menikah dengan Count Du barry dan memperoleh gelar Countess, setelah Count Du Barry meninggal, dia datang ke istana Versailles dan menarik perhatian sang Raja hingga akhirnya berhasil menjadi selir Sang Raja. Setelah menjadi selir Raja Louis XVI, Madame Du Barry tidak hanya mendapatkan kehidupan yang mewah tetapi juga mendapat kedudukan tertinggi di Istana Versailles sampai kedatangan Putri Marie Antoinette yang menjadi Putri Mahkota dan menggeser kedudukan Madame Du Barry. Putrid Marie Antoinette pun terhasut dan memutuskan untuk tidak mempedulikan Madame Du Barry sama sekali.

Madame Du Barry yang kesal dengan sikap Putri Antoinette yang tidak menyapanya sama sekali, berusaha mengalahkannya dan menarik perhatian para bangsawan untuk berada di pihaknya. Apalagi kabar  tentang  Putri Antoinette yang tidak menyapa Madame Du Barry, sudah tersebar dan menjadi bahan pembicaraan di kalangan istana. Para bangsawan itu bertanya-tanya kepada siapakan Oscar berpihak. Namun Oscar sendiri tidak mau memusingkan hal ini dan tidak ingin berpihak pada siapapun.

Sementara itu, Duke Orleans, sepupu putra mahkota menemui Madame Du Barry di ruangannya dan memberitahu cara untuk menarik para bangsawan untuk berada di pihaknya. Maka, Madame Du Barry pun meminta pada Raja Louis XV untuk menjadikan Madame Jarjayes, ibu Oscar, sebagai dayang nya dengan maksud agar Oscar juga berada dipihaknya. Dengan begitu, para bangsawan pun akan berada di pihak Madame Du Barry, mengingat kepopuleran Oscar di kalangan istana Versailles.

Mendengar hal ini, Oscar sangat marah karena Madame Du Barry memperalat ibunya untuk menariknya ke pihak Madame Du Barry namun Oscar tidak punya pilihan, untuk memilih antara Putri Antoinette atau Madame Du Barry. Lalu siapakah yang Oscar pilih?? Lanjut ke episode berikutnya :D
 

Versailles No Bara Copyright © 2011 Design by Ipietoon Blogger Template | Illustration by Enakei | Blogger Blog Templates