Elegant Rose

Minggu, 15 Juli 2012

Rose Of Versailles Ep.11 : Fersen Departs for the Northland

Diposting oleh Unknown di 9:30 PM 0 komentar

Setelah penobatan Raja Prancis yang baru, Louis XVI, seluruh Prancis seperti hidup kembali. Seluruh rakyat engelu-elukan raja baru mereka. Di mana-mana terdapar lukisan dan poster-poster yang memampangkan kedua Raja dan Ratu muda tersebut. Rakyat sangat menaruh harapan besar pada mereka.
Di istana Versailles, Marie Antoinette yang sekarang telah menjadi seorang ratu, mulai melaksanakan tugas barunya yaitu mengadakan pertemuan dengan para bangsawan. Namun Marie Antoinette yang masih kekanak-kanakan dan senang bermain-main, malah bersikap seenaknya. Dia dengan sesuka hatinya mengangkat menteri-menteri tanpa melihat dulu latar belakang dan kemampuan orang tersebut, dan menghentikan atau membatalkan pertemuan seenaknya. Hal ini sangat membuat Count Mercy dan Countess Nouailles khawatir.

Sementara itu, Oscar diangkat menjadi komandan tertinggi di asukan pengawal kerajaan. Ini adalah rekomendasi dari Ratu Antoinette. Ratu Antoinette juga menjanjikan gaji dua kali lipat kepada Oscar namun Oscar menolaknya. Dia ingin gajinya tetap dan apabila Ratu Antoinette memaksa, Oscar tidak akan menerima kenaikan pangkatnya sebagai Komandan Tertinggi. Sang ratu muda terkejut mendengar pernyataan Oscar. Namun dia mengalah dan meminta Oscar mengatakan apapun yang dia inginkan seperti pangkat tinggi, kuda, kastil, namun Oscar hanya berkata bahwa satu-satunya keinginannya adalah melihat Ratu Marie Antoinette menjadi seorang ratu yang baik dan bijaksana. Maka sejak saat itu Oscar menjadi Komandan tinggi, dengan seragam barunya yang berwarna merah. Ratu Marie Antoinette megiriminya banyak sekali hadiah, namun ditolak oleh Oscar. Menurutnya Ratu Marie Antoinette seharusnya bisa menahan dirinya dan tidak menghambur-hamburkan uang untuk mengekspresikan kesenangannya pada orang-orang favoritnya karena uang tersebut merupakan pajak dari rakyat. 

Sang ratu kecewa mengetahui semua hadiahnya ditolak oleh Oscar. Sementara itu hatinya juga sedang dirundung kesedihan karena Fersen sama sekali belum mengunjunginya sejak penobatannya sebagai ratu prancis. Menurut Countess Noailles, Fersen mungkin disibukkan dengan tugas-tugasnya karena dia seorang pelajar yang sedang menuntut ilmu di beberapa Negara di eropa. Karena kesedihannya, Ratu Antoinette merasa malas untuk mengadakan pertemuannya. Dia pun mengatakan kepada Grand Chamberlain untuk membatalkan pertemuan hari itu. Namun Count Mercy menegurnya dan mengatakan bahwa pertemuan tersebut adalah tugas seorang Ratu, dan Marie Antoinette adalah seorang Ratu, bukan lagi Putri Mahkota. Ratu Antoinette terpaksa menurutinya namun dia hanya menemui 10 orang saja. Tiba-tiba salah satu dayang memasuki ruangan dan menyampaikan pesan dari seorang tamu yang ingin menemui Ratu Marie Antoinette. Sang Ratu menolaknya, namun ketika mendengar bahwa tamu tersebut adalah Fersen, Ratu Antoinette menjadi sumringah.

Di ruang pertemuan, para bangsawan merasa kesal dengan sikap Ratu Marie Antoinette yang seenaknya membatalkan pertemuan. Mereka merasa tak dianggap oleh sang ratu. Apalagi ratu membatalkan pertemuan tersebut hanya gara-gara seorang fersen. Kemarahan bangsawan tersebut dikompori oleh Duke de Guemenee. Oscar yang mendengar hal itu sangat menyayangkan sikap Ratu Antoinette.

Sementara itu Ratu Marie Antoinette asyik berbincang-bincang dengan Fersen. Kemudian Countess Nouailles mengabarkan bahwa konser segera dimulai dan meminta Ratu Antoinette bersiap-siap. Lagi-lagi Ratu Antoinette membatalkannya. Fersen merasa tidak enak hati karena Ratu Marie Antoinette lebih memilihnya daripada menghadiri pertemuan dan konser rutin, namun Fersen tidak dapat berbuat apa-apa. Dia terlalu terpesona dengan kecantikan Ratu Antoinette. Countess Nouailles merasakan sesuatu hal yang berbeda pada Ratu Antoinette. Dia pun membicarakannya dengan Count Merci. Menurutnya keramahan Ratu Marie Antoinette pada fersen sangatlah tidak wajar, dan Countess Nouailles merasakan sesuatu hal yang ganjil pada mereka berdua. Namun Count Merci yang tidak peka hanya tertawa dan mengatakan bahwa kekhawatiran Countess Nouailles terlalu berlebihan. Oscar yang mendengar percakapan Countess Nouailles dan Count Merci merasakan kekhawatiran yang sama dengan yang dirasakan oleh Countess Nouailles. Sebagai seorang wanita, tentunya Oscar juga peka terhadap hal-hal tersebut. Oscar berpikir dia harus melakukan tindakan segera untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

Keesokan harinya Oscar mendatangi rumah Fersen dan memberinya peringatan. Fersen sudah menduga apa yang akan dibicarakan Oscar. Maka Oscar pun tidak bertele-tele dan menyarankan pada Fersen agar dia segera meninggalkan Prancis dan kembali ke Swedia. Fersen terkejut dengan pernyataan Oscar. Fersen mengerti akan kekhawatiran Oscar. Menurut Oscar memang belum ada gosip-gosip buruk tentang mereka namun ada beberapa orang yang memperhatikan gerak gerik Fersen dan Ratu Marie Antonette. Hal ini tentu berbeda dulu dan sekarang. Dulu Marie Antoinette masih seorang Putri Mahkota yang memiliki lebih banyak kebebasan, tapi sekarang Marie Antoinette sudah menjadi seorang Ratu. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, dan bahaya yang akan dihadapi Fersen kelak, Oscar menyarankan Fersen untuk tetap di negaranya untuk sementara waktu. Fersen pun mengerti dan menerima saran Oscar ntuk pulang ke negaranya. Sebelum Oscar pulang, Fersen menanyakan sesuatu pada Oscar, apakan Oscar tidak merasa kesepian, memakai pakaian militer dan tidk merasakan kebahagiaan yang dialami oleh seorang gadis muda pada umumnya. Dengan tersenyum Oscar menjawab bahwa ia dilahirkan untuk dibesarkan sebagai anak laki-laki untuk meneruskan tradisi keluarga Jarjayes yang telah dipercaya memimpin pasukan istana. Dan dia tidak merasa kesepian dan menjalani hidupnya bagaimana adanya. Maka Fersen pun mengucapkan salam perpisahan pada Oscar dan berjanji akan bertemu lagi suatu saat nanti.

Dalam perjalanan pulang bersama Andre, Oscar memikirkan kembali apa yang telah dilakukannya. Ini demi Ratu Antoinette, dan yang terpenting untuk Prancis, pikir Oscar. Di tengah perjalanan, Oscar melihat ada kerumunan orang. Rupanya ada keributan disana. Dari salah seorang dari kerumunan yang  mereka tanyai, rupanya ada seorang anak yang mencuri dari seorang Duke. Oscar melihat ditengah kerumunan, ada seorang anak laki-laki kecil sedang menangis dan Duke de Guemenee. Rupanya anak laki-laki itu mencuri dari Duke de Guemenee. Tiba-tiba ada seorang gadis muda berlari ke tengah kerumunan dan memohon ampun pada Duke de Guemenee atas apa yang dilakukan anak laki-laki tersebut. Oscar dan Andre mengenali gadis itu. Dia adalah Rosalie yang pernah mereka temui temo hari. Mendengarkan permohonan Rosalie, Duke de Guemenee memaafkan anak laki-laki itu dan menyuruhnya menyingkar dari hadapannya. Duke de Guemene berbalik dan hendak pergi dari situ.  Rosalie merasa lega dan menyuruh Pierre si anak laki-laki kecil itu untuk pulang. Dengan riang anak laki-laki itu berlari menyongsong ibunya. Namun tiba- tiba duke de Guemene berbalik, mengambil pistol dari dalam sakunya dan menembak anak laki-laki kecil itu tepat ke punggungnya. Si pierre ecil pin terkapar dan tewas seketika, semua yang menyaksikan sangat terkejut namun mereka tidak berani melakukan apa-apa. Oscar yang menyakskan hal itu naih darah dan berusaha mengejar de Guemenee, namun dicegah oleh Andre yang segera membawa Oscar pergi dari tempat itu.

Sesampainya di rumah, Oscar menangisi kejadian tadi dan menyesali ketidakberdayaannya. Emosinya meluap-luap. 
Sementara malam itu juga, Fersen bertolak ke swedia. Selama 4 tahun lamanya dia tidak menginjakkan kakinya di tanah Prancis. 
Ratu Marie Antoinette merasa hancur dengan kepergian fersen apalagi Fersen tidak mengatakan sepatah kata pun padanya. Ratu Marie Antoinette merasa kesepian namun sang ratu belum menyadari arti kesepian yang dirasakannya.

Previous Episode: "Oscar at the Duel at Dawn"
Next Episode: "Oscar at the Duel at Dawn" (coming soon)

Sabtu, 21 April 2012

Rose of Versailles Ep. 10 : A Beautiful Devil, Jeanne

Diposting oleh Unknown di 7:21 PM 0 komentar
Setelah Raja Louis XV wafat, secara otomatis Putra Mahkota Louis August naik tahta menggantikan mendiang kakeknya. Seluruh rakyat Prancis bersuka cita dan berharap hidup mereka akan lebih mudah dengan Raja baru yang memimpin mereka. Pada tanggal 11 Juni 1775, di Reims Cathedral, diselenggarakanlah penobatan raja Prancis yang baru dengan Gelar Raja Louis XVI. Sesuai tradisi, Louis XVI berjalan sendirian di tengan menaiki 40 anak tangga dan di mahkotai. Dengan begitu Louis XVI sah menjadi raja Prancis, sedangkan istrinya Marie Antoinette menjadi ratu Prancis. Saat itu usia mereka begitu muda. Raja Louis XVI baru berusia 19 tahun sedangkan Ratu Marie Antoinette berusia 18 tahun. Sebuah beban dan tanggung jawab yang sangat berat harus mereka pikul mulai saat itu hingga seterusnya.

Pada hari itu juga, setelah upacara penobatan Raja dan Ratu baru mengunjungu Sekolah Louis Le Grand untuk menyaksikan pidato ucapan selamat. Di sana seorang pemuda berwajah pucat membacakan pidato ucapan selamat. Pemuda itu menarik perhatian Raja Louis XVI. Sang raja pun penasaran, dan menanyakan nama pemuda pucat tadi kepada salah satu ajudannya. Dari ajudannya tersebut, diketahui nama pemuda pucat tadi adalah Maximillien d’Robespierre dari jurusan Hukum. Robespierre inilah yang kelak menjadi pemimpin revolusi prancis di kemudian hari. 

Di sudut kota Paris, rakyat masih saja membicarakan harapan mereka dengan adanya raja baru, harga kebutuhan hidup akan menurun. Seorang gadis muda bernama Rosalie mendengar pembicaraan mereka. Dalam hati kecilnya dia juga berharap semua itu benar. Dia merasakan sulitnya mencari uang untuk makan, sementara ibunya masih saja sakit-sakitan. Karena terlalu sibuk berpikir, Rosalie tidak memperhatikan ada kereta kuda melaju cepat dari arah belakang. Dia menyingkir ke pinggir jalan dan terjatuh. Hampir saja dia tertabrak. Namun dia sempat melihat seorang gadis muda yang duduk di dalam kereta kuda itu. Dia terkejut karena gadis itu adalah Jeanne, kakaknya. Karena penasaran, Rosalie mengikuti kereta kuda tersebut. Hingga akhirnya kereta kuda itu berhenti di depan sebuah rumah megah milik seorang bangsawan. Awalnya Rosalie tidak yakin bahwa yang dia lihat itu adalah kakaknya. Kemudian Rosalie memasuki pekarangan rumah itu dan mengintip ke dalam melalui jendela. Dia melihat Jeanne sedang tertawa. Setelah melihat dari dekat, dia yakin itu adalah kakaknya. Namun Rosalie tidak dapat masuk ke dalam rumah itu, karena dia tidak ingin Jeanne dipermalukan dengan dirinya dan pakaiannya yang kotor. Maka Rosalie pun pulang ke rumah.

Sementara itu, Jeanne sangat disayang oleh bangsawan pemilik rumah megah itu, Marquise Brandvillier. Wanita separuh baya itu mengajari Jeanne segala sesuatu yang harus dipelajari oleh gadis bangsawan, dan dia senang sekali karena Jeanne belajar dengan cepat. Dia berkata Jeanne akan diterima di kalangan bangsawan sebagai gadis yang baik. Namun Jeanne yang diam-diam memiliki sifat yang tamak, tidak puas dengan hanya mendapatkan hidupnya yang sekarang. Dia memimpikan hidup seperti seorang ratu di istana Versailles, dan dia akan melakukan apa saja untuk mencapai impiannya itu.

Saat itu prancis yang telah mendapatkan raja baru, belum juga merasakan perubahan. Sepertinya harapan rakyat tidak atau paling tidak belum terwujud. Harga kebutuhan masih saja mahal. Dengan perut kelaparan, Rosalie berjalan kesana-kemari mencari pekerjaan untuk membeli makanan dan obat untuk ibunya. Akhirnya dia memberanikan diri untu mendatangi Jeanne untuk meminta bantuan. Jeanne menyambut Rosalie dengan hangat. Rosalie lega karena Jeanne ternyata tidak mengusirnya. Dia bahkan mengajak Rosalie masuk ke dalam rumah. Di dalam rumah itu ternyata sedang kedatangan tamu para wanita bangsawan. Kepada para wanita itu, Jeanne mengatakan bahwa Rosalie adalah pembantunya di desa yang datang mengunjunginya untuk meminta bantuan. Jeanne kemudian menyuruh Rosalie menunggu di ruangan sempit yang penuh dengan sarang laba-laba. Namun tiba-tiba saja masuklah seorang pria dengan cambuk di tangannya. Pria itu memperkenalkan dirinya sebagai Nicolas de la Motte, pacar Jeanne. Nicolas ingin memberi perhitungan pada Rosalie agar tidak mengancam Jeanne lagi. Rosalie terkejut, dia tidak merasa mengancam Jeanne. Nicolas mencambuki Rosalie. Dengan penuh luka fisik dan luka di hatinya Rosalie pun pergi meninggalkan kediaman Jeanne.

Jeanne yang menyaksikan Rosalie berjalan menjauh, tertawa puas. Dia yakin Rosalie tidak akan berani kembali menemui dirinya lagi. Tidak di saat dia harus menonjolkan dirinya di antara kalangan bangsawan. Dia tidak ingin orang yang mengetahui masa lalunya ada di dekatnya. Sedangkan Nicolas de la Motte adalah seorang pria bodoh yang tergila-gila pada Jeanne dan mau melakukan apa saja untuknya. Maka Jeanne pun menyusun rencana dan memanfaatkan Nicolas untuk membantunya melaksanakan rencana selanjutnya yaitu mendapatkan harta Marquise Brandvillier.

Hari sudah malam, namun Rosalie masih berkeliling mencari pekerjaan. Kini dia sudah tidak memiliki uang sepeser pun. Bahkan untuk membeli roti pun dia tak punya. Di tengah jalan, dia menabrak Count  Mirabeau yang sedang mabuk. Count Mirabeau memarahi Rosalie, namun kemarahannya berhenti tiba-tiba ketika dia melihat wajah Rosalie. Dia mengajak Rosalie ke rumahnya, dan akan membayarnya dengan harga mahal. Rosalie merasa terhina dan menampar Count Mirabeau. Tiba-tiba salah satu pengawal Count Miraeau memanggilnya, dan membawa Count Mirabeau yang mabuk pergi dari situ. Sepeninggalan mereka, kata-kata Count Mirabeau tadi masih terngiang-ngiang di telinga Rosalie. Dia sangat membutuhkan uang. Namun dia takut untuk melakukan pekerjaan seperti yang ditawarkan Count Mirabeau tadi.

Sebuah kereta kuda mewah milik seorang bangsawan datang ke arah Rosalie. Tanpa piker panjang, Rosalie pun menghadang kereta kuda itu. Rupanya itu adalah kereta kuda milik keluarga de Jarjayes. Oscar, putri bungsu Jendral Jarjayes beserta temannya Andre Grandier ada di dalam kereta tersebut. Karena terkejut melihat gadis muda dengan pakaian kotor itu, Oscar pun menyuruh sang kusir berhenti. “Tuan, kumohon. Belilah saya untuk semalam”, kata Rosalie dengan takut-takut. Oscar kaget, rupanya gadis itu menyangka dirinya adalah pria karena berpakaian seragam prajurit. Oscar tertawa terbahak-bahak mendengarkan permintaan gadis kumuh itu. “Hei, hei! Coba kau perhatikan baik-baik. Aku ini juga perempuan. Biarpun gratis juga aku tidak akan mau…” kata Oscar. Rosalie pun terperangah. Kemudian menangis tersedu-sedu. Oscar yang merasa iba kepada Rosalie menanyakan nama dan alasan kenapa dia menjadi seperti itu. Dengan tersedu-sedu, Rosalie pun menceritakan dirinya sangat membutuhkan uang untuk ibunya yang sakit dan dia belum juga menemukan pekerjaan. Oscar pun memberikan sekeping uang untuk Rosalie dan menyuruhnya berjanji untuk tidak melakukan hal bodoh itu lagi. Kemudia Oscar pun pergi. Rosalie terkejut  karena ternyata sekeping uang itu adalah livre emas. Baginya satu livre itu sangat banyak. Rosalie berusaha mengejar nona bangsawan yang memberinya satu livre itu. Namun ‘Nona dalam kereta kuda’ itu sudah pergi menjauh dengan kereta kudanya.

Cerita beralih ke kediaman bangsawan Brandvillier. Jeanne akhirnya menerima cinta Nicolas dan mau menikah dengannya. Namun Nicolas harus mau menuruti permintaannya untuk membantunya merebut harta Marquise Brandvillier. Maka malam itu juga mereka melaksanakan rencana itu. Terjadi kebakaran di rumah Marquise Brandvillier malam itu. Sang Marquise panik dan berlarian mencari Jeanne untuk menyuruhnya menyelamatkan diri. Namun dia terkejut melihat Nicolas mendekatinya dengan membawa obor dengan api di atasnya. Nicolas menjatuhkan api itu kebawah balkon dan membakar karpet dan sofa. Nicolas kemudian mendekati sang Marquise dan mencekiknya lalu menjatuhkannya ke kobaran api di bawah balkon. Sang Marquise pun tewas.

Keesokan harinya, Marquise Brandvillier pun dimakamkan. Jeanne berlagak sedih dengan kematian sang Marquise. Oscar yang mengunjungi rumah duka merasa heran melihat Jeanne, karena sebelumnya dia tidak pernah tahu soal Jeanne yang katanya keluarga jauh Marquise Brandvillier dan merupakan keturunan dinasti valois. Di sana Oscar juga melihat Cardinal Rohan, yang dulunya merupakan duta prancis untuk Austria, namun karena kegenitannya, Ratu Marie Therese tidak menyukainya dan memulangkannya ke Prancis. Jeanne kemudian menyerahkan sebuah amplop berisi surat wasiat Marquise Brandvillier kepada Cardinal Rohan. Sang cardinal yakin itu adalah tulisan marquise. Padahal surat itu adalah surat wasiat palsu dengan tulisan tiruan oleh seorang ahli pemalsu surat bernama Retaux. Di dalam surat itu, tertulis bahwa Marquise Brandvillier mewariskan seluruh harta kekayaannya kepada Jeanne. Dengan begitu harta Marquise Brandvillier jatuh ke tangan Jeanne. Sementara itu Oscar merasa ada yang tidak beres. Oscar mencium gelagat tidak baik pada kedua orang itu. Mungkin firasat Oscar ini benar karena kedua orang itulah yang akan membuat malapetaka besar di kemudian hari.

Previous Episode: "The Sun Sets, The Sun Rises"

Rabu, 04 April 2012

Rose of Versailles Ep. 09 : The Sun Sets, The Sun Rises

Diposting oleh Unknown di 7:10 PM 0 komentar

Madame du Barry yang seperti sudah diketahui banyak orang, merupakan selir Raja Louis XV. Setelah Ratu meninggal, posisinya sebagai wanita yang paling tinggi derajatnya digantikan leh Madame du Barry. Paling tidak sebelum Putri Marie Antoinette datang dari Austria dan menikahi cucu Raja Louis XV, Putra Mahkota Louis August. Sifat Madame du Barry terkenal suka berfoya-foya, dan menggunakan kedudukannya untuk menarik pengikut. Namun semua itu cepat atau lambat pasti akan berakhir. Raja Louis XV sudah tua, dan tidak bisa dipungkiri bahwa suatu saat beliau akan wafat dan digantikan oleh Putra Mahkota. Hal itu bukan hanya bisa menggeser posisi Madame du Barry, namun bisa juga mendepak Madame du Barry dari istana Versailles.

Saat itu, tanggal 27 April 1774 Raja Louis XV pingsan ketika sedang berburu. Beliau segera dilarikan ke Istana Versailles. Satu tim penyembuh yang terdiri dari 6 orang psikiater, 5 orang ahli bedah, dan 3 orang tabib memeriksa keadaan Raja Louis. Namun mereka belum dapat menemukan penyebab dari penyakit yang diderita sang raja. Madame du Barry disisinya khawatir, karena apabila raja meninggal, sudah pasti dirinya akan kehilangan kekuasaannya. Apalagi dia tidak rela apabila harus kalah dari Putri Antoinette.


Semalaman itu, tim penyembuh masih mendiskusikan tentang penyebab penyakit raja. Namum mereka masih saja berada di jalan buntu. Kemudian salah seorang dari mereka menyuruh seoran anak laki-laki pesuruh untuk mematikan beberapa batang lilin di samping tempat tidur raja agar cahayanya tidak menyakiti mata beliau. Anak laki-laki itu pun mematuhinya. Pada saat dia meniup lilin-lilin itu dia melihat bintik-bintik merah di wajah sang raja. Anak laki-laki itu segea memanggil tim penyembuh. Mereka terkejut karena bintik-bintik merah tersebut tak lain dan tak bukan adalah cacar.
Putra mahkota Louis august dan putri Marie Antoinette yang ingin menjenguk Raja tidak diperbolehkan untuk masuk karena khawatir akan tertular apalagi mereka adalah pewaris tahta raja. Saat itu memang penyakit cacar ini belum ditemukan obatnya dan merupakan penyakit yang sangat ganas dan mematikan. Madame du Barry merasa putus asa. Apabila raja meninggal, dia sudah bukan lagi siapa-siapa. Begitu pula para putri-putri raja, mereka pun takut kejayaan mereka sebagai putri raja akan berakhir.

Sementara itu di luar, para bangsawan juga merasa bimbang. Apakah mereka harus memihak putri Antoinette yang notabene bakal menjadi ratu prancis, atau madame du Barry yang kelihatannya akan segera tersingkir dari istana. Semua itu tentunya akan mempengaruhi posisi mereka sebagai bangsawan Versailles. Oscar yang mendengar semua itu menjadi geram. Para bangsawan itu bukan khawatir pada keadaan raja tetapi mereka hanya memikirkan kedudukan saja.

Lain halnya dengan Putra mahkota Louis August yang baik hati. Dia sangat mengkhawatirkan keadaan kakeknya, selain itu dia juga merasa tidak siap untuk menggantikannya sebagai Raja Prancis apabila hal yang paling buruk terjadi. Dia dan istrinya, Putri Marie Antoinette masih terlalu muda untuk memerintah negeri itu. Putri Marie Antoinette merasa iba pada suaminya, dia pun mengajak Putra Mahkota untuk berdoa bersama agar dikuatkan dan diberikan yang terbaik.



Oscar yang saat itu sedang mengawasi para prajuritnya berlatih baris-berbaris tiba-tiba didatangi oleh seorang utusan yang menyampaikan pesan Madame du Barry agar Oscar datang ke tempatnya. Gerodere yang mendengar itu khawatir karena dia tahu Madame du Barry adalah wanita jahat yang bisa saja menjebak Oscar dan mencelakainya. Namun Oscar menolak dan pergi sendiri ke tempat Madame du Barry. Sesampainya di sana Madame du Barry mengutarakan keinginannya kepada Oscar. Madame du Barry ingin berbaikan dengan Putri Antoinette dan meminta Oscar membantunya agar dirinya bisa berteman dengan Putri Antoinette. Namun Oscar menolak dengan alasan dia tidak memiliki kekuasaan untuk hal itu dan semua itu sudah terlambat. Madame du Barry tiba-tiba mengeluarkan pisau dan menodongkannya ke wajah Oscar. “Kalau kau tidak mau menodai wajah cantikmu dengan darah, kau harus menuruti permintaan ku!! ”, ancam Madame du Barry pada Oscar. Namun tanpa takut, Oscar maju dan pisau itu pun melukai nya, meninggalkan goresan kecil di wajahnya. Madame du Barry terkejut dengan keberanian Oscar dan menjatuhkan pisaunya. Oscar pun meninggalkannya.

Setelah gagal meminta bantuan dari Oscar, Madame du Barry mendatangi Duke Orleans. Namun Duke Orleans menolaknya dan menyuruh pengawalnya mengusir Madame du Barry. Duke Orleans tidak mau berurusan dengan Madame du Barry karena dia sudah tidak lagi memiliki kekuasaan. Dengan putus asa Madame du Barry pun kembali ke Istana Versailles. Di sana dia terus saja mendesak para tim penyembuh untuk menyembuhkan raja.

Sudah 10 hari raja berbaring di tempat tidur, para tim penyembuh akhirnya menyerah. Mereka tidak bisa melakukan apa-apa, mereka hanya bisa menghimbau semua orang untuk menjauhi kamar raja agar tidak tertular. Hanya Madame du Barry yang tetap bertahan berada di sisi sang raja. Menyemangatinya untuk bertahan hidup. Suatu hari Raja Louis merasa ini adalah saat-saat terakhirnya. Beliau meminta untuk didatangkan seorang pendeta, dia akan melakukan pengakuan. Pendeta pun didatangkan dan melakukan pengakuan seperti permintaan Raja Louis XV yang sekarat. “Apabila yang mulia ingin diampuni dosa-dosanya, maka yang mulia harus mengusir selir anda karena itu menyimpang dari ajaran agama dan dianggap penghinaan terhadap tuhan. Maka usirlah Madame du Barry dari Versailles”, kata si pendeta. Begitulah selanjutnya, madame du Barry diusir dari istana Versailles.

Di luar istana, para bangsawan berkumpul menatap lilin yang dipasang di jendela kamar Raja yang sedang sekarat. Lilin itu sebagai tanda apabila hal terburuk terjadi. Hari itu langit diselimuti mendung tebal dan petir menyambar-nyambar. Lilin yang berada di kamar Raja tiba-tiba padam. Raja telah wafat. Para bangsawan di luar segera memasuki istana berlari menuju ruangan Putri dan Putra Mahkota. Mereka berteriak, “Raja telah wafat!! Raja telah wafat!!”. Dengan wafatnya sang raja maka Putra mahkota Louis August menggantikannya sebagai raja prancis dengan gelar Raja Louis XVI dan istrinya, Putri Marie Antoinette menjadi Ratu Prancis.

Sementara itu Oscar melihat Madame du Barry diseret oleh 2 orang pengawal. Madame du Barry berteriak-teriak dan memberontak. Kedua pengawal itu memukuli Madame du Barry yang sudah tidak memiliki kekuasaan apa-apa. Apalagi dia berasal dari rakyat jelata dan mantan seorang wanita penghibur. Oscar tidak dapat membiarkan perlakuan kasar itu. Salah seorang dari pengawal itu akan mencambuki madame du Barry namun dicegah oleh Oscar. Oscar pun mengawal kereta kuda yang membawa madame du Barry sampai ke perbatasan. Itulah akhir dari kekuasaan Madame du Barry, seorang wanita yang pernah menjadi selir kesayangan raja, yang memonopoli kekuasaan dan kemewahan, yang pernah menaklukkan Putri Marie Antoinette. Madame du Barry di asingkan ke biara Pont-Aux-Dames, sebelah barat Paris sampai pada tahun 1793, dengan keputusan dari Persidangan Revolusi Madame du Barry berakhir di guillotine.

Previous Episode: "Oscar in My Heart"

 

Versailles No Bara Copyright © 2011 Design by Ipietoon Blogger Template | Illustration by Enakei | Blogger Blog Templates