Elegant Rose

Rabu, 04 April 2012

Rose of Versailles Ep. 09 : The Sun Sets, The Sun Rises

Diposkan oleh Hayyu François de Jarjayes di 7:10 PM

Madame du Barry yang seperti sudah diketahui banyak orang, merupakan selir Raja Louis XV. Setelah Ratu meninggal, posisinya sebagai wanita yang paling tinggi derajatnya digantikan leh Madame du Barry. Paling tidak sebelum Putri Marie Antoinette datang dari Austria dan menikahi cucu Raja Louis XV, Putra Mahkota Louis August. Sifat Madame du Barry terkenal suka berfoya-foya, dan menggunakan kedudukannya untuk menarik pengikut. Namun semua itu cepat atau lambat pasti akan berakhir. Raja Louis XV sudah tua, dan tidak bisa dipungkiri bahwa suatu saat beliau akan wafat dan digantikan oleh Putra Mahkota. Hal itu bukan hanya bisa menggeser posisi Madame du Barry, namun bisa juga mendepak Madame du Barry dari istana Versailles.

Saat itu, tanggal 27 April 1774 Raja Louis XV pingsan ketika sedang berburu. Beliau segera dilarikan ke Istana Versailles. Satu tim penyembuh yang terdiri dari 6 orang psikiater, 5 orang ahli bedah, dan 3 orang tabib memeriksa keadaan Raja Louis. Namun mereka belum dapat menemukan penyebab dari penyakit yang diderita sang raja. Madame du Barry disisinya khawatir, karena apabila raja meninggal, sudah pasti dirinya akan kehilangan kekuasaannya. Apalagi dia tidak rela apabila harus kalah dari Putri Antoinette.


Semalaman itu, tim penyembuh masih mendiskusikan tentang penyebab penyakit raja. Namum mereka masih saja berada di jalan buntu. Kemudian salah seorang dari mereka menyuruh seoran anak laki-laki pesuruh untuk mematikan beberapa batang lilin di samping tempat tidur raja agar cahayanya tidak menyakiti mata beliau. Anak laki-laki itu pun mematuhinya. Pada saat dia meniup lilin-lilin itu dia melihat bintik-bintik merah di wajah sang raja. Anak laki-laki itu segea memanggil tim penyembuh. Mereka terkejut karena bintik-bintik merah tersebut tak lain dan tak bukan adalah cacar.
Putra mahkota Louis august dan putri Marie Antoinette yang ingin menjenguk Raja tidak diperbolehkan untuk masuk karena khawatir akan tertular apalagi mereka adalah pewaris tahta raja. Saat itu memang penyakit cacar ini belum ditemukan obatnya dan merupakan penyakit yang sangat ganas dan mematikan. Madame du Barry merasa putus asa. Apabila raja meninggal, dia sudah bukan lagi siapa-siapa. Begitu pula para putri-putri raja, mereka pun takut kejayaan mereka sebagai putri raja akan berakhir.

Sementara itu di luar, para bangsawan juga merasa bimbang. Apakah mereka harus memihak putri Antoinette yang notabene bakal menjadi ratu prancis, atau madame du Barry yang kelihatannya akan segera tersingkir dari istana. Semua itu tentunya akan mempengaruhi posisi mereka sebagai bangsawan Versailles. Oscar yang mendengar semua itu menjadi geram. Para bangsawan itu bukan khawatir pada keadaan raja tetapi mereka hanya memikirkan kedudukan saja.

Lain halnya dengan Putra mahkota Louis August yang baik hati. Dia sangat mengkhawatirkan keadaan kakeknya, selain itu dia juga merasa tidak siap untuk menggantikannya sebagai Raja Prancis apabila hal yang paling buruk terjadi. Dia dan istrinya, Putri Marie Antoinette masih terlalu muda untuk memerintah negeri itu. Putri Marie Antoinette merasa iba pada suaminya, dia pun mengajak Putra Mahkota untuk berdoa bersama agar dikuatkan dan diberikan yang terbaik.



Oscar yang saat itu sedang mengawasi para prajuritnya berlatih baris-berbaris tiba-tiba didatangi oleh seorang utusan yang menyampaikan pesan Madame du Barry agar Oscar datang ke tempatnya. Gerodere yang mendengar itu khawatir karena dia tahu Madame du Barry adalah wanita jahat yang bisa saja menjebak Oscar dan mencelakainya. Namun Oscar menolak dan pergi sendiri ke tempat Madame du Barry. Sesampainya di sana Madame du Barry mengutarakan keinginannya kepada Oscar. Madame du Barry ingin berbaikan dengan Putri Antoinette dan meminta Oscar membantunya agar dirinya bisa berteman dengan Putri Antoinette. Namun Oscar menolak dengan alasan dia tidak memiliki kekuasaan untuk hal itu dan semua itu sudah terlambat. Madame du Barry tiba-tiba mengeluarkan pisau dan menodongkannya ke wajah Oscar. “Kalau kau tidak mau menodai wajah cantikmu dengan darah, kau harus menuruti permintaan ku!! ”, ancam Madame du Barry pada Oscar. Namun tanpa takut, Oscar maju dan pisau itu pun melukai nya, meninggalkan goresan kecil di wajahnya. Madame du Barry terkejut dengan keberanian Oscar dan menjatuhkan pisaunya. Oscar pun meninggalkannya.

Setelah gagal meminta bantuan dari Oscar, Madame du Barry mendatangi Duke Orleans. Namun Duke Orleans menolaknya dan menyuruh pengawalnya mengusir Madame du Barry. Duke Orleans tidak mau berurusan dengan Madame du Barry karena dia sudah tidak lagi memiliki kekuasaan. Dengan putus asa Madame du Barry pun kembali ke Istana Versailles. Di sana dia terus saja mendesak para tim penyembuh untuk menyembuhkan raja.

Sudah 10 hari raja berbaring di tempat tidur, para tim penyembuh akhirnya menyerah. Mereka tidak bisa melakukan apa-apa, mereka hanya bisa menghimbau semua orang untuk menjauhi kamar raja agar tidak tertular. Hanya Madame du Barry yang tetap bertahan berada di sisi sang raja. Menyemangatinya untuk bertahan hidup. Suatu hari Raja Louis merasa ini adalah saat-saat terakhirnya. Beliau meminta untuk didatangkan seorang pendeta, dia akan melakukan pengakuan. Pendeta pun didatangkan dan melakukan pengakuan seperti permintaan Raja Louis XV yang sekarat. “Apabila yang mulia ingin diampuni dosa-dosanya, maka yang mulia harus mengusir selir anda karena itu menyimpang dari ajaran agama dan dianggap penghinaan terhadap tuhan. Maka usirlah Madame du Barry dari Versailles”, kata si pendeta. Begitulah selanjutnya, madame du Barry diusir dari istana Versailles.

Di luar istana, para bangsawan berkumpul menatap lilin yang dipasang di jendela kamar Raja yang sedang sekarat. Lilin itu sebagai tanda apabila hal terburuk terjadi. Hari itu langit diselimuti mendung tebal dan petir menyambar-nyambar. Lilin yang berada di kamar Raja tiba-tiba padam. Raja telah wafat. Para bangsawan di luar segera memasuki istana berlari menuju ruangan Putri dan Putra Mahkota. Mereka berteriak, “Raja telah wafat!! Raja telah wafat!!”. Dengan wafatnya sang raja maka Putra mahkota Louis August menggantikannya sebagai raja prancis dengan gelar Raja Louis XVI dan istrinya, Putri Marie Antoinette menjadi Ratu Prancis.

Sementara itu Oscar melihat Madame du Barry diseret oleh 2 orang pengawal. Madame du Barry berteriak-teriak dan memberontak. Kedua pengawal itu memukuli Madame du Barry yang sudah tidak memiliki kekuasaan apa-apa. Apalagi dia berasal dari rakyat jelata dan mantan seorang wanita penghibur. Oscar tidak dapat membiarkan perlakuan kasar itu. Salah seorang dari pengawal itu akan mencambuki madame du Barry namun dicegah oleh Oscar. Oscar pun mengawal kereta kuda yang membawa madame du Barry sampai ke perbatasan. Itulah akhir dari kekuasaan Madame du Barry, seorang wanita yang pernah menjadi selir kesayangan raja, yang memonopoli kekuasaan dan kemewahan, yang pernah menaklukkan Putri Marie Antoinette. Madame du Barry di asingkan ke biara Pont-Aux-Dames, sebelah barat Paris sampai pada tahun 1793, dengan keputusan dari Persidangan Revolusi Madame du Barry berakhir di guillotine.

Previous Episode: "Oscar in My Heart"

Facebook Comments

0 komentar:

Poskan Komentar

Merci Beaucoup ^^

 

Versailles No Bara Copyright © 2011 Design by Ipietoon Blogger Template | Illustration by Enakei | Blogger Blog Templates